Showing posts with label Hutan. Show all posts
Showing posts with label Hutan. Show all posts

Mengenal GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

Banyak hal yang dibahas dalam bidang kehutanan terkhusus untuk hal geodesi dan kartografi. sebelumnya saya juga sudah membuat rangkuman tentang "penyajian peta".
Global positioning system (GPS) adalah sistem satelit dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini di desain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinu di seluruh dunia tanpa bergantung pada waktu dan cuaca.

Ada beberapa hal yang membuat GPS menarik untuk digunakan dalam penentuan posisi, seperti yang akan dijelaskan sebagai berikut.
  1. GPS dapat digunakan setiap saat tanpa bergantung waktu dan cuaca. GPS dapat digunakan baik pada siang maupun malam hari, kondisi cuaca yang buruk sekalipun seperti hujan atau kabut.
  2. Satelit GPS memiliki keorbitan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 20.000km diatas permukaan bumi, dan jumlahnya relative banyak, yaitu 24 satelit. Sehingga GPS mencakup wilayah yang cukup luas, sehingga dapat digunakan orang banyak dalam waktu yang bersamaan.
  3. Penggunaan GPS dalam penentuan posisi tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi topografis daerah survey dibandingkan dengan metode terestris seperti pengukuran polygon. Penentuan posisi dengan posisi GPS tidak memerlukan adanya saling keterlihatan antara satu titik dengan titik lainnya seperti pada umumnya yang dituntut oleh metode-metode pengukuran terestris.
  4. Posisi yang ditentukan GPS akan mengacu pada suatu datum global yang dinamakan WGS 1984, atau dengan kata lain posisi yang diberikan oleh GPS mengacu pada datum yang sama.
  5. GPS dapat memberikan ketelitian posisi yang spektrumnya cukup luas. Dari yang sangat teliti (orde millimeter) sampai yang biasa saja. Disamping itu, dibandingkan dengan metode penentuan posisi genetik lainnya, GPS juga mempunyai kinerja yang cukup baik penentuan posisi.
  6. Pemakaian sistem GPS tidak dikenakan biaya, setidaknya sampai saat ini. Selama pengguna memiliki alat penerima (receiver) sinyal GPS maka yang bersangkutan bisa menggunakan GPS untuk berbagai aplikasi.
  7. Alat penerima sinyal (receiver) GPS cenderung menjadi lebih kecil ukurannya, lebih murah harganya, lebih baik kualitas data yang diberikan dan lebih tinggi keandalannya.
  8. Pengoperasian GPS untuk penentuan posisi suatu titik relative mudah dan tidak mengeluarkan banyak tenaga. Dibandingkan dengan pengukuran terestris seperti pada metode polygon.
  9. Pengumpul data (surveyor) GPS tidak dapat memanipulasi data pengamatan seperti halnya yang dapat dilakukan pada metode pengumpulan data terestris.
  10. Makin banyak instansi di Indonesia yang menggunakan GPS juga makin banyak bidang aplikasi yang potensial di Indonesia yang dapat ditangani dengan menggunakan GPS.

Hal dan keterbatasan yang harus diperhatikan dalam menggunakan GPS, yaitu:
  1. Agar alat penerima sinyal GPS dapat menerima sinyal GPS maka tidak boleh ada penghalang antara alat penerima tersebut dengan satelit yang bersangkutan. Ini harus diperhatikan terutama daerah perkotaan yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi.
  2. Datum penentuan posisi yang digunakan oleh GPS adalah WGS 1984. Seandainya posisi harus dipresentasikan dalam datum lainnya, maka diperlukan proses transformasi koordinat dari datum WGS 1984 ke datum yang bersangkutan.
  3. Komponen tinggi dari koordinat tiga dimensi yang diberikan oleh GPS adalah tinggi yang mengacu ke permukaan ellipsoid, yaitu ellipsoid GRS (geodetic reference system) 1980.
  4. Pada surfei penentuan penentuan posisi dengan GPS, pemoresesan data GPS dan penganalisaan hasilnya bukanlah suatu hal yang mudah. Meskipun proses pegnumpulan data dengan GPS relative mudah, pemoresesan data yang diperoleh serta penganalisaan parameter-parameter yang didapat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah terutama jika kita menginginkan keakuratan yang tinggi.
  5. Karena GPS merupakan teknologi yang relative baru, maka sumberdaya manusia yang menguasai masalah teknologi ini di Indonesia relative sedikit.
READ MORE - Mengenal GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)

Teknik Penyajian & Reproduksi Peta

Sekedar berbagi informasi semasa kuliah dulu, di sini saya bagikan rangkuman tentang Geodesi dalam bidang kehutanan. Semoga dapat membantu para pembaca dalam bidangnya masing-masing...

Persyaratan dalam penyajian gambar atau peta adalah :
  1. Peta harus memenuhi persyaratan dasar matematika seperti sama luas, sama sudut dan sama panjang.
  2. Peta harus tepat dengan keadaan sebenarnya, untuk itu dinyatakan dengan skala .
  3. Peta harus selengkap mungkin. Isi peta juga dipengaruhi oleh skala.
  4. Peta harus mempunyai kegunaan yang jelas. Untuk itu perlu diperhatikan ukuran serta proyeksi peta sesuai dengan tujuan penggunaannya.
  5. Peta harus jelas dan mudah dimengerti.
  6. Peta harus ringkas dan mudah dibaca, kebersihan gambar, keindahan dan sebagainya.

Supaya peta disajikan dan dapat dipergunakan oleh setiap orang, maka di dalam peta harus dicantumkan hal-hal sebagai berikut :
  1. judul peta
  2. skala
  3. koordinat-koordinat
  4. petunjuk arah utara
  5. keterangan arah utara
  6. keterangan atau legenda lain yang penting

Penulisan nama-nama geografi dibuat dengan prinsip penulisan huruf sebagai berikut :
  1. wilayah administrasi dan nama tempat, biasanya berwarna hitam, dapat juga berwarna lain
  2. nama bentuk relief seperti pegunungan, bukit dengan tipe italic hitam
  3. nama perairan atau wujud air dengan tipe italic warna biru
Simbol-simbol suatu peta dapat dibagi dalam 4 kelompok :
  1. unsur-unsur buatan manusia (man made features, culture, kebudayaan)
  2. unsur-unsur perairan, hidrografi (water feature)
  3. unsur-unsur relief, hipografi (relief feature)
  4. unsur-unsur tumbuh-tumbuhan (vegetarian feature)

Simbol-simbol untuk peta menggunakan warna :
  1. biru menyatakan air
  2. hitam dan merah menyatakan unsur kebudayaan
  3. coklat dan ragamnya menyatakan relief
  4. hijau menyatakan tumbuh-tumbuhan
Pada pembuatan peta perlu dicantumkan informasi petunjuk arah utara dalam bentuk garis penunjuk arah, merupakan orientasi dari peta. Dikenal 3 macam arah utara, sebagai berikut :
  1. orientasi peta pada utara geografi- sistem umum merupakan utara peta didasarkan pada arah utara geografi di titik awal/nol sistem proyeksi peta
  2. orientasi peta pada utara geografi-sistem setempat, yaitu utara peta didasarkan pada arah utara geografi di satu titik kerangka dasar tertentu
  3. orientasi peta pada utara magnet, yaitu utara peta didasarkan pada arah utara magnet si satu titik kerangka dasar tertentu

Deklinasi magnet ada karena kutub utara geografi dan kutub utara magnet tidak berimpit. Pada kondisi ini arah utara magnet serong terhadap arah utara geografi. Besarnya penyerongan kedua arah tersebut disebut deklinasi magnet.

Konvergensi meridian ada karena arah-arah utara geografi geografi di muka bumi konvergen kekutub utara geografi. Akibatnya arah utara geografi di satu tempat akan menyerong terhadap arah utara geografi di tempat lain. Besarnya penyerongan arah utara geografi di suatu tempat terhadap arah utara di tempat lain dinamakan konvergensi meridian.
READ MORE - Teknik Penyajian & Reproduksi Peta

Pendekatan dan Strategi Penyuluhan Kehutanan

Karakteristik Pendekatan Penyuluhan
- Masalah utama yang memerlukan pemecahan
- Tujuan yang ingin dicapai
- Perencana kegiatan
- Pelaksana lapang
- Sumberdaya yang diperlukan
- Pelaksanaan kegiatan
- Ukuran keberhasilan

Strategi Penyuluhan Kehutanan
- Strategi digunakan untuk mendefinisikan rancangan operasional yang akan dipilih oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan-kebijakannya.
- Tiga strategi menurut Van de Ban dan Hawkins (1985)
1. Rekayasa sosial
2. Pemasaran sosial
3. Partisipasi sosial
- Tidak ada strategi penyuluhan yang selalu efektif dan baik untuk semua kelompok sasaran, karena pilihan strategi tergantung motivasi penyuluh dan perlu memperhatikan kondisi kelompok sasaran (Totok Mardikanto, 1995).


Pertimbangan Penentuan Strategi
- Spesifikasi tujuan penyuluhan untuk mencapai sasaran pembangunan kehutanan
- Identifikasi kategori petani
- Perumusan strategi penyuluhan untuk penerapan teknologi
- Pemilihan metoda penyuluhan yang diterapkan
READ MORE - Pendekatan dan Strategi Penyuluhan Kehutanan

Teori Basis Ekonomi dalam Pengembangan Wilayah Kehutanan

Sebelumnya saya sudah membuat rangkuman tentang "Teori Lokasi dalam Pengembangan Wilayah Kehutanan, nah disini saya juga sekedar berbagi mata kuliah dahulu yang pernah saya ikuti, berikut rangkuman singkat tentang "Teori Basis Ekonomi".

Perekonomian regional dapat dibagi menjadi 2:
1. Kegiatan basis (basic activities)
Kegiatan yang mengekspor barang-barang dan jasa ke tempat-tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan.
2. Kegiatan bukan basis (non basic activities)
Kegiatan-kegiatan yang menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang-orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan.

Kebaikan Teori Basis
1. Mudah diterapkan
2. Dapat menjelaskan struktur perekonomian suatu daerah
3. Dapat menjelaskan impak umum dari perubahan jangka pendek
4. Sederhana

Model Ekonomi Basis Tiebout
Dikembangkan oleh Tiebout (1962). Alat ukur yang digunakan adalah pendapatan. Kelebihan pendapatan sebagai alat ukur:
  • Dapat mengukur dampak potensial wilayah sebagai pasar.
  • Dapat mengukur kesejahtraan individu maupun masyarakat.

Komentar terhadap Teori Basis Ekonomi Tiebout
  • Tidak menjelaskan tentang investasi yang tidak termasuk dalam kategori bisnis murni dan investasi di bidang sosial
  • Hanya bisa diterapkan di wilayah kecil dengan kegiatan ekonomi yang belum terlalu bervariasi dan agak terisolasi, sehingga memungkinkan untuk mendata semua kegiatan ekonomi.

Analisis Input dan Output
Manfaat / kegunaan analisis input – output
  • Menggambarkan kaitan antar sektor sehingga memperluas wawasan terhadap perekonomian wilayah.
  • Dapat digunanakan untuk mengetahui daya menarik dan mendorong dari setiap sektor sehingga mudah menetapkan sektor mana yang dijadikan sebagai sektor strategis dalam perencanaan pembangunan wilayah.
  • Dapat meramalkan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan tingkat kemakmuran seandainya permintaan akhir dari beberapa sektor diketahui akan meningkat.
  • Sebagai salah satu alat analisis yang penting yang penting dalam perencanaan pembangunan wilayah karena bisa melihat permasalahan secara komprehensif.
  • Dapat digunakan sebagai bahan untuk menghitung kebutuhan tenaga kerja dan modal dalam perencanaan pembangunan ekonomi wilayah, bila inputnya dinyatakan dalam bentuk tenaga kerja atau modal.

Kelemahan Model Input – Output
  • Asumsi-asumsi yang restriktif
  • Biaya pengumpulan data yang besar
  • Hambatan dalam mengembangkan model dinamik.
READ MORE - Teori Basis Ekonomi dalam Pengembangan Wilayah Kehutanan

Teori Lokasi dalam Pengembangan Wilayah Kehutanan

Penyuluhan kehutanan merupakan salah satu dari sekian banyak mata kuliah yang di berikan di Fakultas Kehutanan. Berikut ini adalah rangkuman dari beberapa bab tentang penyuluhan kehutanan khususnya tentang "teori lokasi', semoga bermanfaat.
Teori lokasi adalah
  • Ilmu yang menyelidiki tata ruang kegiatan ekonomi
  • Ilmu yang menyelidiki alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha atau kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial.

1. Teori Tempat Sentral (Christaller)
Modal ini dikembangkan untuk suatu wilayah abstrak dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  • Wilayahnya adalah daratan, semua adalah datar dan sama
  • Gerakan dapat dilaksanakan ke segala arah
  • Penduduk memiliki daya beli yang sama dan tersebar secara merata pada seluruh wilayah
  • Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip minimalisasi jarak/biaya.

2. Modal Von Thunen
Membahas tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa tanah (pertimbangan ekonomi).

Asumsi-asumsi dalam model Von Thunen:
  • Wilayah analisis bersifat terisolir sehingga tidak terdapat pengaruh pasar dari kota lain.
  • Tipe pemukiman adalah padat di pusat wilayah (pusat pasar) dan makin berkurang kepadatannya apabila menjauhi pusat wilayah.
  • Seluruh fasilitas model memiliki iklim, tanah dan topografi yang seragam.
  • Fasilitas pengangkutan adalah primitif (sesuai pada zamannya) dan relatif seragam.
  • Ongkos ditentukan oleh berat barang yang dibawa kecuali perbedaan jarak ke pasar, semua faktor alamiah yang mempengaruhi penggunaan tanah adalah seragam dan konstan.

3. Teori lokasi biaya minimum Weber
Teori ini menganalisis lokasi kegiatan industri. Asumsi-asumsi yang digunakan Weber:
  • Unit telaahan adalah suatu wilayah terisolasi, iklim yang homogen, konsumen terkonsentrasi pada beberapa pusat, dan kondisi pasar adalah persaingan sempurna.
  • Beberapa sumber daya alam seperti air, pasir dan batu bara tersedia dimana-mana dalam jumlah yang memadai.
  • Material lainnya seperti bahan bakar mineral dan tambang tersedia secara sporadis dan hanya terjangkau pada beberapa tempat terbatas.
  • Tenaga kerja tidak tersebar merata tapi berkelompok pada beberapa lokasi dan dengan mobilitas yang terbatas.

4. Teori lokasi pendekatan pasar Losch
Teori ini melihat persoalan dan sisi permintaan (pasar). Lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen. Makin jauh dari pasar, konsumen enggan karena biaya transportasi tinggi.
READ MORE - Teori Lokasi dalam Pengembangan Wilayah Kehutanan

Peran Mikroorganisme dalam Mendekomposisi Bahan Organik

Tingginya bahan organik pada tanah gambut merupakan karakteristik yang dimiliki oleh tanah gambut. Isroi (2008) meyatakan bahwa tanah sangat kaya akan mikroorganisme, seperti bakteri, actinomycetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroorganisme per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroorganisme tersebut. Tambahnya lagi, bahwa sebagian besar mikroorganisme tanah memiliki peranan yang menguntungkan, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, siklus hara tanaman, fiksasi nitrogen, pelarut posfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen, dan membantu penyerapan unsur hara.

Buckman & Brady (1982) menyatakan bahwa organisme tanah berperan penting dalam mempercepat penyediaan hara dan juga sebagai sumber bahan organik tanah. Mikroorganisme tanah sangat nyata perannya dalam hal dekomposisi bahan organik pada tanaman tingkat tinggi. Dalam proses dekomposisi sisa tumbuhan dihancurkan atau dirombak menjadi unsur yang dapat digunakan tanaman untuk tumbuh. 

White (1947) mengatakan bahwa mikroorganisme akan menyerang atau merusak tumbuhan sampai hilangnya sebagian O2 dan berkembangnya toksin yang akan merusak kehidupan mikroorganisme. Jika proses tersebut berjalan terus, maka akan dihasilkan gambut yang berwarna hitam. Jika proses tersebut tidak berjalan terus maka akan dihasilkan gambut yang mempunyai struktur seperti tumbuhan dan biasanya berwarna coklat yang mengandung sisa-sisa kayu dan material tumbuhan lainnya.

Mikroorganisme perombak bahan organik ini terdiri atas fungi dan bakteri. Pada kondisi aerob, mikroorganisme perombak bahan organik terdiri atas fungi, sedangkan pada kondisi anaerob sebagian besar perombak bahan organik adalah bakteri (Noor 2004). Fungi berperan penting dalam proses dekomposisi bahan organik untuk semua jenis tanah. Fungi toleran pada kondisi tanah yang asam, yang membuatnya penting pada tanah-tanah hutan masam. Sisa-sisa pohon di hutan merupakan sumber bahan makanan yang berlimpah bagi fungi tertentu mempunyai peran dalam perombakan lignin (Foth 1991).

Nitrogen (N) harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain Rhizobium sp. Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman.

Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, unsur hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P, mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp, dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K (Isroi 2008).
READ MORE - Peran Mikroorganisme dalam Mendekomposisi Bahan Organik

Delapan Kontainer Kayu Coba Diselundupkan

Liputan6.com, Surabaya: Bea Cukai Madya Pabean Tanjungperak, Surabaya, Jawa Timur, menggagalkan delapan kontainer berisi kayu merbau, eboni, dan merani, yang akan diselundupkan ke Singapura, Cina, dan Taiwan, Kamis (10/6). Modus pelaku dengan memalsukan isi dokumen kepabean.

Terbongkarnya penyelundupan dari lima ekportir yakni CV Kembang Jaya, Java Cahya, Tri Wahyoe Oetama, Citra Adi Buana, dan PT Pilar Bumi Agung yang akan mengekspor arang dan rumput laut ketiga negara tersebut namun dalam pemeriksaan delapan kontainer ditemukan kayu gergaji.

Petugas Bea Cukai Madya Pabean Tanjungperak memeriksa lima perusahaan yang menjadi eksportir. Menurut petugas, akibat penyelundupan itu dirugikan hingga Rp 2 miliar. Bila terbukti bersalah, para pelku diancam dengan hukuman delapan tahun dipenjara dan denda Rp 100 jura.

Sumber: yahoo news 
READ MORE - Delapan Kontainer Kayu Coba Diselundupkan

Pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK)

Tumbuhan yang bermanfaat secara ekonomi terhadap manusia tersedia di hutan Indonesia sejak dahulu kala, hutan Indonesia menyediakan tumbuhan yang bermanfaat secara ekonomi kepada manusia, sebagian di antaranya sederet umbi, kacang-kacangan, sayuran, buah, gula dan tepung, rempah-rempah, infusi, dan alkohol; tumbuhan digunakan sebagai bahan bangunan, senjata, perkakas, pembawa air, keranjang, dan perkakas rumah tangga lainnya, serat, barang perhuasan dan hiasan, kain, alat musik, obat, pengawet, pestisida dan racun, minyak dan getah, serta sabun dan sampo. Beberapa di antara hasil hutan ini bernilai ekonomi tinggi dan sekarang diakui secara luas; yang lain menjadi kurang penting atau digantikan barang lain yang lebih modern.

Industri kayu sangat menguntungkan dan penggunaan sumber daya tumbuhan Indonesia tampak lebih nyata. Jumlah ekspor kayu dan kayu lapis sepuluh juta meter kubik per tahun, setara dengan sekubus kayu berukuran dua kali panjang lapangan sepakbola. Sumber kayu Indonesia secara umum menghasilkan jutaan dolar Amerika, dan sementara itu tercipta ribuan lapangan kerja bagi pekerja Indonesia. Namun dibalik keuntungan dari hasil hutan kayu tersebut terjadi suatu peristiwa yang sangat memprihatinkan yakni nilai kerusakan lingkungan yang sangat tinggi.

Di samping industri kayu, juga terdapat perdagangan hasil hutan lain seperti rotan, getah, tumbuhan obat, dan bambu yang secara umum lebih dikenal sebagai hasil hutan non kayu. Di lihat dari manfaat yang dapat diberikan hasil hutan non kayu tersebut mampu memberikan manfaat yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan manfaat yang dapat diberikan hasil hutan kayu. Seperti bambu yang dikumpulkan dari tumbuhan liar dan digunakan secara luas di Indonesia untuk bahan bangunan, penyangga bangunan, tempat air dan pipa saluran, tabung masak, keranjang, tikar, senjata, penangkap ikan, alat musik, dan sebagai salah satu sumber bahan baku bubur kayu dan kertas, sementara rebung mudanya dapat dimasak sebagai sayur yang sangat berguna untuk kesehatan. Contoh lainnya adalah tumbuhan obat, yang sering digunakan masyarakat Indonesia untuk melakukan pengobatan berbagai macam penyakit secara tradisional. Sedangkan produk getah-getahan yang dihasilkan beberapa jenis tanaman juga sangat berguna dan sangat berpotensi untuk dijadikan sumber pendapatan negara seperti resin, terpentin dan latex, serta berbagai jenis hasil hutan non kayu lainnya.
READ MORE - Pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu (HHNK)

Dukung Pulau Komodo Jadi 7 Keajaiban Dunia

Zurich / Swiss, 19 April 2010 - Seorang wanita muda Indonesia telah berhasil menjalankan misinya untuk mempromosikan Taman Nasional Komodo, salah satu dari 28 Finalis resmi dalam kampanye New7Wonders of Nature .

Zeby Febrina, seorang penyayang binatang sejak kecil, telah berkampanye dengan sungguh-sungguh untuk pulau-pulau tanah air yang subur yang membentuk Taman Nasional Komodo , di habitat yang paling penting bagi “naga”. Kadal raksasa ini bisa mencapai tiga meter atau hampir 10 kaki panjang dan berat sampai 70 kg atau 150 lbs, dan air liur mereka mengandung bakteri beracun. Zeby mengatakan, "Tujuan saya menjadi relawan untuk New7Wonders of Nature Finalis Komodo adalah untuk meningkatkan kesadaran akan keberadaan komodo yang terancam punah karena mereka merupakan “monster” prasejarah yang menarik. People everywhere: we need to appreciate and protect the natural world around us, celebrate our planet's diversity and keep the world in balance!” Untuk semua orang dimanapun berada: kita perlu menghargai dan melindungi alam sekitar kita, planet kita menjaga keragaman dan menjaga keseimbangan dunia! "

Sekarang adalah saatnya bagi kita menghargai alam indonesia kita, setidaknya dengan memberikan dukungan untuk Taman Nasional Komodo yang merupakan salah satu finalis New7Wonders of Nature. Sehingga dengan demikian kita memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Silahkan kunjungi link New7Wonders of Nature untuk ikut memberikan dukungan untuk Taman Nasional Komodo. Dan sebarkan ke lebih banyak lagi teman-teman yang lain. Salam Lestari.....
READ MORE - Dukung Pulau Komodo Jadi 7 Keajaiban Dunia

Anggrek Tikus

Anggrek buntut tikus (Paraphalaenopsis laycockii) merupakan salah satu anggrek di Indonesia yang tergolong langka atau mulai jarang ditemukan di habitat aslinya. Tumbuhan ini berbatang pendek, dengan panjang hanya 5 cm, dan berdaun sedikit. Bentuk daun menyerupai galah satu alur dengan panjang bisa mencapai 1 meter dan berdiameter 1 cm. 

Bunganya tergolong pendek, jarang mencapai 15 cm. Warna bunganya tergolong cantik yakni keunguan dengan bibir bunga berwarna kuning kemerahan. Daun kelopak bagian dorsal berbentuk lanset menjorok, ujung lancip dengan panjang mencapai 4 cm dan lebar sekitar 1,5 cm. Daun kelopak samping berbentuk bulat telur dengan ujung lancip yang bisa mencapai panjang 4,5 cm dan lebar 1,7 cm. Sedangkan daun mahkota berbentuk pasak dengan panjang 4 cm dan lebar 1,4 cm. Bibir bunga bercuping tiga, sementara tugu bunga berwarna putih dengan panjang mencapai 1 cm. Bakal buah berbentuk silinder dengan panjang 6 cm. Anggrek buntut tikus mekar hampir serentak dan tahan selama 12-14 hari.

Anggrek buntut tikus biasa tumbuh di tepi sungai maupun di daerah pegunungan. Sejumlah pengamat mengatakan bunga ini hanya terdapat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, tapi pengamat lain menyebut jenis anggrek ini juga terdapat di Kalimantan Timur. Dan pada tahun 1970 ditemukan di daerah produksi kayu di Kalimantan Timur. Menurut data Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), koleksi anggrek buntut tikus milik Kebun Raya Bogor selama ini dikirim dari Kalimantan Barat. Tanaman ini berpotensi dikembangkan dalam persilangan sebagai bunga potong. Persilangan yang pernah dibuat antara lain dengan Paraphalaenopsis denevei, Paraphalaenopsis serpentilingua, Phalaenopsis grandiflora dan Luisia teretifolia. Karena tanaman ini tergolong langka, ada baiknya Anda mencoba melestarikannya. Caranya, lewat penyemaian biji pada media buatan yang bebas dari mikroorganisme.
READ MORE - Anggrek Tikus

Keanekaragaman Hayati Indonesia

Keanekaragaman sumber daya hayati Indonesia termasuk dalam golongan tertinggi di dunia, jauh lebih tinggi daripada keanekragaman sumber daya hayati di Amerika maupun Afrika tropis, apalagi bila dibandingkan dengan daerah beriklim sedang dan dingin.

Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia secara keseluruhan ditaksir sebanyak 25.000 jenis atau lebih dari 10 persen dari flora dunia. Lumut dan ganggang ditaksir jumlahnya 35.000 jenis. Tidak kurang dari 40 persen dari jenis-jenis ini merupakan jenis yang endemik atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia saja dan tidak terdapat di tempat lain di dunia.

Dari sekian banyak jenis-jenis tumbuhan yang ada sebagian besar terdapat di kawasan hutan tropika basah, terutama hutan primer, yang menutup sebagian besar daratan Indonesia. Hutan ini mempunyai struktur yang kompleks yang menciptakan lingkungan sedemikian rupa sehingga memungkinkan beranekaragam jenis dapat tumbuh di dalamnya. Dari sekian banyak jenis tumbuhan yang ada banyak terdapat di dalamnya jenis-jenis yang kisran ekologinya sama tetapibanyak pula yang berbeda. Jenis-jenis tertentu mempunyai kisaran penyebaran yang luas dan menduduki berbagai macam habitat dan seirama dengan itu pula jenis semacam ini biasanya mempunyai variabilitas genetika yang tinggi.

Dari keanekragaman sumber daya hayati di hutan primer tersebut tidak hanya terbatas pada jenis tumbuhan berkayu, namun juga ditumbuhi oleh beranekaragam tumbuhan bawah yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Tumbuhan bawah juga menjadu salah satu bagian dari fungsi hutan. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah yang sangat tinggi menyebabkan adanya kemungkinan masih banyak jenis-jenis tumbuhan bawah lainnya yang belum teridentifikasi, sehingga kita tidak mengetahui dengan jelas bagaimana keanekaragaman tumbuhan bawah yang sebenarnya.

Dalam hal melakukan identifikasi terhadap berbagai jenis tumbuhan bawah yang juga merupakan bagian dari keanekaragaman sumber daya alam hayati maka perlu dilakukan pengukuran-pengukuran, baik itu pengukuran secara langsung terhadap organisme yang bersangkutan ataupun dengan cara mengevaluasi indikator-indikator yang ada. Berbagai aspek yang dapat diamatai dalam rangka pengukuran keanekaragaman sumber daya hayati adalah : jumlah jenis, kerapatan atau kelimpahan, penyebaran, dominasi, produktivitas, variasi di dalam jenis, variasi atau keanekaragaman genetik, laju kepunahan jenis, nilai jenis atau genetik, jenis asli (alami) atau asing, dan berbagai indikator lainnya.
READ MORE - Keanekaragaman Hayati Indonesia

Types of Fungi On Some Peat Maturity Model

INTRODUCTION

Background

Peatlands cover only about 3% of the earth, and contain 20-35% of the carbon stored in the earth's surface. Tropical peat lands, such as in Southeast Asia, has a storage capacity of carbon is very much (3-6 times more than the peatland, in temperate climates). Peatlands are also very rich in biological diversity and unique species only found in peat swamp areas (Moore & Nina 2003).

Indonesian peatlands estimated 26 million ha area. Almost all existing peatlands of Indonesia are found outside Java, which is the islands transmigration destination areas, namely on the island of Sumatra, 8.9 million ha, 6.3 million ha of the island of Borneo and Papua Island 10.9 million ha. In the region of Sumatra, most peatlands are in the East coast, while in Borneo there are in West Kalimantan, Central Kalimantan and South Kalimantan (Ad Hoc Team 2008).

Peat swamp forest is a forest species that grows in a thick layer of organic material. This layer of organic material composed of stacks of plants that have been dead like leaves, roots, twigs, tree trunks and even complete, which has accumulated over thousands of years. The peat is forming an increasingly growing media raised every turn of generation plants, and it can produce layers with thickness up to more than 20 meters. Peat layer is formed under certain conditions, for plants that die under normal circumstances quickly experienced the decomposition by fungi, bacteria and other organisms. However, due to the nature of the anaerobic peat and has a high acidity, and lack of nutrients, the decomposition process was slow (Central Kalimantan Peatlands Project 2006).

Considering the important role of soil microorganisms, especially fungi, in the process of decomposition of organic matter in peat and the still relatively limited information about the types of fungi in peat, have identified the types of peat soil fungi in order to accelerate the process of decomposition of organic material. Thus will be known populations and species of fungi that play a role in the process of decomposition of peat soil orgnik materials. The information obtained can be used as supporting data in the management of peatlands. Buckman & Nyle (1982) stated that soil organisms play an important role in accelerating the provision of nutrients and also as a source of soil organic matter.


RESULTS AND DISCUSSION

Result

The observation and identification in the laboratory showed that the fungi were identified are as many as 8 species. Each type of peat land in Sei Siarti Village, Labuhan Batu regency there are different types of fungi for each replication and pengencerannya. From the results of the identification of species of fungi have not been identified. It is caused when microscopic observation characteristics such as conidial fungi, fungal hyphae and other structures compiler could not be seen clearly.

The eight species of fungi were identified consisted of Aspergillus sp.1, sp.2 Aspergillus, Fusarium sp., Penicillium chrysogenum, Penicillium digitatum, Penicillium sp., Curvularia sp. and Mucor sp. Of the eight species is not entirely contained in the three types of peat, based on the level of maturity, because the ability of fungi to compete in taking food, to survive in anaerobic conditions and in decomposing organic materials vary. Another factor affecting the presence of fungi in peat can be seen more clearly in the discussion.

The types of fungi isolated from peat soil saprik

Saprik isolated from peat soil obtained 4 types of fungi. As for the types of fungi, namely Aspergillus sp.1, Fusarium sp., Penicillium chrysogenum, and Aspergillus sp.2. Number of fungal colonies on average for this type of peat saprik presented in Table 1.

Table 1. The types of fungi found in soil type saprik
The four types of fungi in peat saprik obtained, there are differences in the number of colonies for each fungi. Penicillium chrysogenum is a fungus with an average number of colonies of the first ever that is equal to 1.3 x 104 cfu / ml, whereas the number of colonies of fungi with the smallest average is Aspergillus sp.2 that is equal to 3.3 x 103 cfu / ml.


The types of fungi isolated from peat soil hemik

In the isolated species hemik peat has five types of fungi and is the result of isolation tarbanyak ie, Penicillium chrysogenum, Mucor sp., Penicillium digitatum, Penicillium sp., Curvularia sp. Number of fungal colonies on average daat seen in Table 2.

Table 2. The types of fungi found in soil type hemik
The table above shows the differences in the number of colonies of each type of fungi in peat hemik. On peat soils fibrik Culvularia sp. is the number of colonies of fungi with the highest average of the first that is equal to 7 x 102 cfu / ml, and fungi with the number of fungal colonies on average there are 2 types, namely the smallest Penicillium digitatum and Penicillium sp. that is equal to 0.3 x 102 cfu / ml.

The types of fungi isolated from peat soil fibrik

Fibrik peat types are the types of land of at least type funginya. Only two types of fungi obtained from the isolated, namely Aspergillus Mucor sp.1 and sp .. Here the number of fungal colonies average presented in Table 3.

Table 3. The types of fungi found in soil type fibrik
In the table above, Mucor sp. are fungi with the highest number of colonies that is equal to 1 x 104 cfu / ml while the Aspergillus sp. 1 only amounted to 3.7 x 102 cfu / ml.

Discussion

On peat soil types found 4 saprik fungi, namely Aspergillus sp. 1, Fusarium sp., Penicillium chrysogenum, and Aspergillus sp. 2. Of these four types of fungi, Penicillium chrysogenum is the number of colonies of fungi with the greatest average first 1.3 x 104 cfu / ml later Fusarium sp. of 1 x 104 cfu / ml and Aspergillus sp. 1 of 6.7 x 103 cfu / ml, and Aspergillus sp. 2 amounted to 3.3 x 103 cfu / ml. Although Penicillium chrysogenum is the largest colony, but in peat this saprik Aspergillus species are the most dominant fungi, can be explained that there are several factors that cause a lot of fungi in the peat soils, including soil conditions are anaerobic, fungal food sources and the ability of fungi to survive.

Identification results for peat hemik found 5 fungi, namely Penicillium chrysogenum, Mucor sp., Penicillium digitatum, Curvularia sp., Penicillium sp .. Fungi that have the largest average colony first is Curvularia sp. that is equal to 7 x 102 cfu / ml and Penicillium chrysogenum by 4.7 x 102 cfu / ml, Mucor sp. that is equal to 3.7 X 102 cfu / ml, Penicillium digitatum that is equal to 0.3 x 102 cfu / ml and Penicillium sp. that is equal to 0.3 x 102 cfu / ml. The results obtained show that Peniciliium sp. is the most dominant fungi occupy hemik peat types. Dermiyati (1997) explained that the organic material capable of functioning as a source of energy and food for soil microorganisms. Presumably the ability Peniciliium sp. to decompose organic matter better than the other fungi, because of the peat soil and hemik Peniciliium saprik sp. is the most dominant fungi.

In fibrik peat soil types found only 2 fungi, namely Aspergillus Mucor sp.1 and sp. Most existing number of colonies in fungi Mucor sp. that is equal to 1 x 104 cfu / ml while Aspergillus sp.1 only equal to 3.7 X 102 cfu / ml. Factor may be the cause of food sources at least fibrik fungi in peat. According to Deacon (1984) Mucor sp. is a type of fungi that contain cellulose and saprofit. Peat decomposition fibrik an early stage, the fungi found in soil from identification results is contained fungi of twig or leaf that falls, and is the lowest layer.
In general, habitat Penicillium sp. found on forest lands and also on the seed. This fungi can be spread through the wind. On land, these fungi berberan in the process of decomposition of leaf litter decomposition in particular. Thus, these fungi can also enhance plant growth, the results are consistent with research & Goenadi Herman (1999), which states that microorganisms such as Aspergillus sp., And Penicillium sp. able to produce polysaccharides that are useful in adhesive soil particles. In conjunction with plant growth gluing soil particles will push aggregate-aggregate formation of a stable soil permeability and aeration of the soil so much better. So it can be explained that the existence of Penicillium sp. in the peat soil is to help provide nutrients for plants with the remnants of decomposition of organic material, and then converted into elements that can be utilized by plants.

Fusarium sp. are fungi that are saprofit soil but can be pathogenic to many plants. These fungi can also cause decay in the roots of plants, and also plays a role in the decomposition process. These results are in accordance with Irawan & Yulianti (2004) who concluded in his research that found 5 species of fungi are the dominant decomposers of coffee perkebuhan Sumberjaya, West Lampung, namely: Fusarium sp., Aspergillus ochraceus, Rube Monascus, Aspergillus niger and Trichoderma sp.

Aspergillus sp. can be found in soil, fruits, leaves and litter are also a way to isolate these fungi from their habitat. Many species of aspergillus are used for food and beverage industry. Yet another important role is in the process of decomposition of soil organic matter and assist plant growth. As it is known that the remains of plants contain a high cellulose and lignin which is a food source for many fungi, including Aspergillus sp., This agrees with the statement of Rao (1994), who said that some microbes such as Trichoderma, Aspergillus, and Penicillium able to remodel cellulose into monosaccharides material compounds, alcohol, CO2 and other organic acids by the release of cellulase enzymes.

Culvularia sp. hemik found only in soil, these fungi are also poorly known perananya in the process of decomposition. However, these fungi are suspected of habitat has a role in decomposing organic material, where the habitat of these fungi are very much in the tropics, was isolated from soil and there is also diserasah. In addition to that, according to Gandjar et al. (1999), these fungi can oxidize various Mn salts, produces a red pigment (cynodotin), and menghidroksilasi progesterone. In addition, Culvularia sp. has a rapid growth of the colony, where average growth was 1.1 cm per day. This demonstrates the ability of fungi in competing for nutrients or other elements far better than other types of fungi.

Mucor sp. is a cosmopolitan species, ie species that have very wide distribution area, because this species can be isolated from soil, grass, animal dung, wood pulp, and others. The identification results obtained showed that the Mucor sp. found on the maturity level and hemik fibrik. Almost the same as Culvularia sp. colony growth of Mucor sp. quick look on PDA (Potato Dextrosa order), with an average growth was 2 cm per day. Thus indicate the ability of competing fungi obtain nutrients better than other fungi. Buckman & Nyle (1982) states there are 4 (four) types of the most well-known genus of fungi that is Penisillium, Mucor, Trichoderma, and Aspergillus. These fungi grow in great lands, acid, neutral or alkaline, some of them will love the low pH. This statement is reinforced by Pitt & Hocking (1997) stating the types of fungi including Fusarium sp., Mucor sp., Rhizopus sp. and Trichoderma sp, able to survive and compete with other fungi to get room to grow as well as other elements necessary for growth. Mucor sp. can grow at temperature 5-200C.

The deeper the peat will lower the oxygen conditions, this is possible because at least the intensity of light that can penetrate into, except that, peat environment in general is always inundated by water. This is thought to be factors affecting the process of decomposition by fungi and fungi are also factors in the presence of peat. From the research shows the differences in the composition of fungi and fungal populations on peat soil types based on the level of maturity.


CONCLUSIONS AND RECOMMENDATIONS

Conclusion

From this research we can conclude:
  1. 8 known species of fungi are the dominant decomposers of peat Siarti Sei Village, Labuhan Batu District, namely: Aspergillus sp. 1, Aspergillus sp. 2, Fusarium sp, Penicillium chrysogenum, Penicillium digitatum, Penicillium sp, Curvularia sp and Mucor sp.
  2. On peat soil fungi species found saprik 4 species of fungi namely: Aspergillus sp. 1, Fusarium sp., Aspergillus sp. 2 and Penicillium chrysogenum.
  3. On peat soil fungi species found hemik 5 species of fungi are: Penicillium chrysogenum, Mucor sp, Penicillium digitatum, Curvularia sp, Penicillium sp.
  4. On peat soil fungi species found fibrik 2 species of fungi namely: Aspergillus sp.1 and Mucor sp.
READ MORE - Types of Fungi On Some Peat Maturity Model