Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Dukung Pulau Komodo Jadi 7 Keajaiban Dunia

Zurich / Swiss, 19 April 2010 - Seorang wanita muda Indonesia telah berhasil menjalankan misinya untuk mempromosikan Taman Nasional Komodo, salah satu dari 28 Finalis resmi dalam kampanye New7Wonders of Nature .

Zeby Febrina, seorang penyayang binatang sejak kecil, telah berkampanye dengan sungguh-sungguh untuk pulau-pulau tanah air yang subur yang membentuk Taman Nasional Komodo , di habitat yang paling penting bagi “naga”. Kadal raksasa ini bisa mencapai tiga meter atau hampir 10 kaki panjang dan berat sampai 70 kg atau 150 lbs, dan air liur mereka mengandung bakteri beracun. Zeby mengatakan, "Tujuan saya menjadi relawan untuk New7Wonders of Nature Finalis Komodo adalah untuk meningkatkan kesadaran akan keberadaan komodo yang terancam punah karena mereka merupakan “monster” prasejarah yang menarik. People everywhere: we need to appreciate and protect the natural world around us, celebrate our planet's diversity and keep the world in balance!” Untuk semua orang dimanapun berada: kita perlu menghargai dan melindungi alam sekitar kita, planet kita menjaga keragaman dan menjaga keseimbangan dunia! "

Sekarang adalah saatnya bagi kita menghargai alam indonesia kita, setidaknya dengan memberikan dukungan untuk Taman Nasional Komodo yang merupakan salah satu finalis New7Wonders of Nature. Sehingga dengan demikian kita memperkenalkan kepada dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati.

Silahkan kunjungi link New7Wonders of Nature untuk ikut memberikan dukungan untuk Taman Nasional Komodo. Dan sebarkan ke lebih banyak lagi teman-teman yang lain. Salam Lestari.....
READ MORE - Dukung Pulau Komodo Jadi 7 Keajaiban Dunia

Anggrek Tikus

Anggrek buntut tikus (Paraphalaenopsis laycockii) merupakan salah satu anggrek di Indonesia yang tergolong langka atau mulai jarang ditemukan di habitat aslinya. Tumbuhan ini berbatang pendek, dengan panjang hanya 5 cm, dan berdaun sedikit. Bentuk daun menyerupai galah satu alur dengan panjang bisa mencapai 1 meter dan berdiameter 1 cm. 

Bunganya tergolong pendek, jarang mencapai 15 cm. Warna bunganya tergolong cantik yakni keunguan dengan bibir bunga berwarna kuning kemerahan. Daun kelopak bagian dorsal berbentuk lanset menjorok, ujung lancip dengan panjang mencapai 4 cm dan lebar sekitar 1,5 cm. Daun kelopak samping berbentuk bulat telur dengan ujung lancip yang bisa mencapai panjang 4,5 cm dan lebar 1,7 cm. Sedangkan daun mahkota berbentuk pasak dengan panjang 4 cm dan lebar 1,4 cm. Bibir bunga bercuping tiga, sementara tugu bunga berwarna putih dengan panjang mencapai 1 cm. Bakal buah berbentuk silinder dengan panjang 6 cm. Anggrek buntut tikus mekar hampir serentak dan tahan selama 12-14 hari.

Anggrek buntut tikus biasa tumbuh di tepi sungai maupun di daerah pegunungan. Sejumlah pengamat mengatakan bunga ini hanya terdapat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, tapi pengamat lain menyebut jenis anggrek ini juga terdapat di Kalimantan Timur. Dan pada tahun 1970 ditemukan di daerah produksi kayu di Kalimantan Timur. Menurut data Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), koleksi anggrek buntut tikus milik Kebun Raya Bogor selama ini dikirim dari Kalimantan Barat. Tanaman ini berpotensi dikembangkan dalam persilangan sebagai bunga potong. Persilangan yang pernah dibuat antara lain dengan Paraphalaenopsis denevei, Paraphalaenopsis serpentilingua, Phalaenopsis grandiflora dan Luisia teretifolia. Karena tanaman ini tergolong langka, ada baiknya Anda mencoba melestarikannya. Caranya, lewat penyemaian biji pada media buatan yang bebas dari mikroorganisme.
READ MORE - Anggrek Tikus

Keanekaragaman Hayati Indonesia

Keanekaragaman sumber daya hayati Indonesia termasuk dalam golongan tertinggi di dunia, jauh lebih tinggi daripada keanekragaman sumber daya hayati di Amerika maupun Afrika tropis, apalagi bila dibandingkan dengan daerah beriklim sedang dan dingin.

Jenis tumbuh-tumbuhan di Indonesia secara keseluruhan ditaksir sebanyak 25.000 jenis atau lebih dari 10 persen dari flora dunia. Lumut dan ganggang ditaksir jumlahnya 35.000 jenis. Tidak kurang dari 40 persen dari jenis-jenis ini merupakan jenis yang endemik atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia saja dan tidak terdapat di tempat lain di dunia.

Dari sekian banyak jenis-jenis tumbuhan yang ada sebagian besar terdapat di kawasan hutan tropika basah, terutama hutan primer, yang menutup sebagian besar daratan Indonesia. Hutan ini mempunyai struktur yang kompleks yang menciptakan lingkungan sedemikian rupa sehingga memungkinkan beranekaragam jenis dapat tumbuh di dalamnya. Dari sekian banyak jenis tumbuhan yang ada banyak terdapat di dalamnya jenis-jenis yang kisran ekologinya sama tetapibanyak pula yang berbeda. Jenis-jenis tertentu mempunyai kisaran penyebaran yang luas dan menduduki berbagai macam habitat dan seirama dengan itu pula jenis semacam ini biasanya mempunyai variabilitas genetika yang tinggi.

Dari keanekragaman sumber daya hayati di hutan primer tersebut tidak hanya terbatas pada jenis tumbuhan berkayu, namun juga ditumbuhi oleh beranekaragam tumbuhan bawah yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Tumbuhan bawah juga menjadu salah satu bagian dari fungsi hutan. Keanekaragaman jenis tumbuhan bawah yang sangat tinggi menyebabkan adanya kemungkinan masih banyak jenis-jenis tumbuhan bawah lainnya yang belum teridentifikasi, sehingga kita tidak mengetahui dengan jelas bagaimana keanekaragaman tumbuhan bawah yang sebenarnya.

Dalam hal melakukan identifikasi terhadap berbagai jenis tumbuhan bawah yang juga merupakan bagian dari keanekaragaman sumber daya alam hayati maka perlu dilakukan pengukuran-pengukuran, baik itu pengukuran secara langsung terhadap organisme yang bersangkutan ataupun dengan cara mengevaluasi indikator-indikator yang ada. Berbagai aspek yang dapat diamatai dalam rangka pengukuran keanekaragaman sumber daya hayati adalah : jumlah jenis, kerapatan atau kelimpahan, penyebaran, dominasi, produktivitas, variasi di dalam jenis, variasi atau keanekaragaman genetik, laju kepunahan jenis, nilai jenis atau genetik, jenis asli (alami) atau asing, dan berbagai indikator lainnya.
READ MORE - Keanekaragaman Hayati Indonesia

Protecting Sumatra’s forests

Sumatra’s 10 governors and four government ministries (Environment, Forests, Interior and Public Works) made a bold commitment to protect the remaining forests and critical ecosystems of Sumatra, an Indonesian island that holds some of the world’s most diverse – and threatened – forests. The historic agreement represents the first-ever island-wide commitment to protect Sumatra’s stunning biodiversity. This will protect Sumatra’s remaining forests, home to the Sumatran tiger, rhino, orang-utan and Asian elephant. More than 13 percent of Sumatra’s remaining forests are peat forests, which sit atop the deepest peat soil in the world. Protecting these forests will also help in mitigating global climate change.

Indonesia doubles size of key national park and brings new hope for Sumatra’s elephants and tigers

The government of Indonesia has declared its commitment to expanding the vital Tesso Nilo National Park on Sumatra island to 86,000 hectares. Tesso Nilo is one of the last havens of endangered Sumatran elephants and critically endangered Sumatran tigers. With more than 4,000 plant species recorded so far, the forest of Tesso Nilo has the highest lowland forest plant biodiversity known to science, with many species yet to be discovered.

Source; panda.org/forests
READ MORE - Protecting Sumatra’s forests